WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
Episode 008
Dewi Siluman Bukit Tunggul
Dewi Siluman Bukit Tunggul
SATU
Wiro Sableng menghentikan jalannya di tikungan itu. Matanya memandang ke muka memperhatikan beberapa buah gerobak besar ditumpangi oleh perempuan-perempuan dan anak-anak.
Gerobak-gerobak itu juga penuh dengan muatan berbagai macam perabotan rumah tangga.
Belasan orang laki-laki kelihatan berjalan kaki dan membawa buntalan barang-barang. Jelaslah bahwa semua mereka itu tengah melakukan pindah besar-besaran.
“Saudara, hendak pergi ke manakah rombonganmu ini?” bertanya Wiro sewaktu seorang anggota rombongan melangkah ke jurusannya.
Orang itu memandang sebentar kepadanya dengan pandangan curiga. Demikian juga anggota rombongan yang lain.
“Kami terpaksa meninggalkan kampung, pindah ke tempat lain yang jauh dari daerah ini….”
“Kenapa pindah?”
Seorang laki-laki tua yang mengemudikan gerobak, menghentikan gerobak itu dan menjawab pertanyaan Wiro Sableng.
“Kampung kami dilanda malapetaka!”
“Malapetaka apakah?”
“Kepala kampung dan lima orang pembantunya serta istrinya digantung. Beberapa orang gadis diculik! Beberapa penduduk dibunuh….”
“Siapa yang melakukannya?” tanya Wiro Sableng.
“Siapa lagi kalau bukan kaki tangannya Dewi Siluman,” menyahuti laki-laki pengemudi kereta.
Mulut Pendekar 212 tertutup rapat-rapat. Rahangnya bertonjolan lagi-lagi dia dihadapkan pada kejahatan yang dilakukan oleh orang-orangnya Dewi Siluman.
“Kalau kami tidak meninggalkan kampung, kami semua akan dibunuh!”
Anggota rombongan yang pertama tadi bertanya. “Kau sendiri mau kemanakah, Saudara…?”
“Maksudku ke arah sana. Ke kampung kalian…?”
“Sebaiknya batalkan saja niatmu,” menasehati orang itu. “Orang-orangnya Dewi Siluman pasti akan datang lagi ke kampung kami. Jika kau ditemui mereka di sana, tiada harapan bagimu untuk hidup lebih lama!”
“Terima kasih atas nasihatmu, Saudara!” jawab Wiro. “Tapi aku tetap musti menuju kesana….”
“Kau mencari mati, orang muda!” kata pengemudi gerobak. Dilecutnya punggung lembu yang menarik gerobak itu kemudian diberinya aba-aba. Rombongan itu pun bergerak kembali.
Wiro Sableng menghentikan jalannya di tikungan itu. Matanya memandang ke muka memperhatikan beberapa buah gerobak besar ditumpangi oleh perempuan-perempuan dan anak-anak.
Gerobak-gerobak itu juga penuh dengan muatan berbagai macam perabotan rumah tangga.
Belasan orang laki-laki kelihatan berjalan kaki dan membawa buntalan barang-barang. Jelaslah bahwa semua mereka itu tengah melakukan pindah besar-besaran.
“Saudara, hendak pergi ke manakah rombonganmu ini?” bertanya Wiro sewaktu seorang anggota rombongan melangkah ke jurusannya.
Orang itu memandang sebentar kepadanya dengan pandangan curiga. Demikian juga anggota rombongan yang lain.
“Kami terpaksa meninggalkan kampung, pindah ke tempat lain yang jauh dari daerah ini….”
“Kenapa pindah?”
Seorang laki-laki tua yang mengemudikan gerobak, menghentikan gerobak itu dan menjawab pertanyaan Wiro Sableng.
“Kampung kami dilanda malapetaka!”
“Malapetaka apakah?”
“Kepala kampung dan lima orang pembantunya serta istrinya digantung. Beberapa orang gadis diculik! Beberapa penduduk dibunuh….”
“Siapa yang melakukannya?” tanya Wiro Sableng.
“Siapa lagi kalau bukan kaki tangannya Dewi Siluman,” menyahuti laki-laki pengemudi kereta.
Mulut Pendekar 212 tertutup rapat-rapat. Rahangnya bertonjolan lagi-lagi dia dihadapkan pada kejahatan yang dilakukan oleh orang-orangnya Dewi Siluman.
“Kalau kami tidak meninggalkan kampung, kami semua akan dibunuh!”
Anggota rombongan yang pertama tadi bertanya. “Kau sendiri mau kemanakah, Saudara…?”
“Maksudku ke arah sana. Ke kampung kalian…?”
“Sebaiknya batalkan saja niatmu,” menasehati orang itu. “Orang-orangnya Dewi Siluman pasti akan datang lagi ke kampung kami. Jika kau ditemui mereka di sana, tiada harapan bagimu untuk hidup lebih lama!”
“Terima kasih atas nasihatmu, Saudara!” jawab Wiro. “Tapi aku tetap musti menuju kesana….”
“Kau mencari mati, orang muda!” kata pengemudi gerobak. Dilecutnya punggung lembu yang menarik gerobak itu kemudian diberinya aba-aba. Rombongan itu pun bergerak kembali.
Wiro Sableng mengikuti rombongan itu dengan pandangannya sampai akhirnya mereka lenyap di kejauhan. Hatinya kasihan sekali melihat orang-orang itu, terutama laki-laki tua dan perempuan-perempuan tua serta anak-anak. Kemudian dibalikkannya badannya dan dengan cepat berlalu dari situ.
Kira-kira dua kali sepeminum teh, Wiro Sableng menemui sebuah kampung yang berada dalam keadaan porak poranda. Pastilah ini kampung rombongan yang ditemuinya di tengah jalan tadi.
Beberapa buah rumah hancur. Dua di antaranya musnah dimakan api. Empat orang laki-laki terkapar di hadapan sebuah rumah bagus sedang di langkan rumah Pendekar 212 menyaksikan enam orang tergantung berayun-ayun tiada nyawa lagi. Yang pertama adalah kepala kampung, kemudian isterinya. Selebihnya adalah pembantu-pembantu kepala kampung. Di beberapa langkan rumah lainnya, Wiro menemukan pula beberapa orang yang mengalami nasib sama seperti kepala kampung, digantung sampai mati.
Pendekar 212 menyandarkan punggungnya ke sebatang pohon dan membatin. Kesalahan apakah yang telah dibuat penduduk kampung ini sebelumnya sampai mereka dibunuh sedemikian kejamnya? Anak-anak dan perempuan-perempuan tanpa perikemanusiaan sama sekali?!
Wiro ingat pada ucapan anggota rombongan tadi. Orang-orangnya Dewi Siluman pasti akan kembali ke kampung itu. Wiro memutuskan untuk menunggu. Jika manusia-manusia jahat itu muncul, dia akan buat perhitungan dengan mereka dan sekaligus mencari keterangan di mana letak Bukit Tunggul. Manusia macam Dewi Siluman tidak layak dibiarkan hidup lebih lama. Maka Wiro pun melompat ke sebuah cabang pohon yang tinggi, duduk di situ dan memulai penungguannya.
Sampai matahari condong ke barat tak seorang pun yang muncul. Dengan hati kesal murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu turun dari atas pohon dan mengelilingi kampung.
Bukan main geramnya. Wiro sewaktu di salah satu dinding rumah penduduk ditemuinya barisanbarisan tulisan seperti yang dilihatnya sebelumnya di kampung yang terdahulu.
Delapan penjuru angin adalah daerah kami
Siapa menantang mesti diterjang
Dunia persilatan boleh geger
Tokoh-tokoh persilatan boleh turun tangan
Kalau mau mempercepat kematian.
Dan juga di bawah barian-bansan kalimat itu tertera lukisan tengkorak kecil. Geram sekali Wiro Sableng pergunakan kaki kirinya untuk menendang dinding rumah itu. Dinding rumah hancur berantakan. Ditinggalkannya tempat itu. Hatinya bimbang dan meragu apakah orang-orangnya Dewi Siluman benar-benar akan kembali ke kampung itu. Tiba-tiba Wiro tersirap kaget. Di belakang rumah sebelah kirinya terdengar suara seseorang bicara.
“Heran, kenapa Dewi Siluman berbuat kekejaman yang tiada artinya ini?”
Sebagai jawaban terdengar suara helaan napas yang disusul dengan ucapan. “Manusia punya seribu macam cara untuk cari nama di dunia persilatan!”
Ternyata ada dua orang di samping rumah sana. Yang mengherankan Wiro ialah mengapa dia sama sekali tidak mendengar sedikit pun kedatangan kedua manusia itu? Penuh rasa ingin tahu Wiro menyelinap ke bagian rumah yang lain dan melompat ke sebatang pohon berdaun rindang.
Dari sini jelas sekali dia dapat memandang ke halaman samping rumah tadi. Dua sosok tubuh manusia dilihatnya berdiri di sana. Dan untuk kedua kalinya Pendekar 212 dibuat terkejut. Salah seorang dari dua manusia itu bukan lain dari nenek-nenek sakti yang pernah baku hantam sekitar dua bulan yang lewat dengan dia di Kotaraja. Nenek-nenek sakti yang dikenal dengan gelar Si Telinga Arit Sakti.
Gerangan apakah yang membuat manusia ini berada pula di Pulau Madura? Dan siapakah manusia yang berdiri di sampingnya saat itu? Manusia ini juga seorang perempuan tua renta, bermuka keriput. Salah satu matanya hanya merupakan rongga hitam yang mengerikan. Kepalanya tidak sedikit pun ditumbuhi rambut. Dia mengenakan jubah putih yang pada bagian dadanya tergambar dua buah arit saling bersilangan! Melihat kepada umur serta ciri-ciri manusia ini Wiro menduga mungkin sekali dia adalah guru Si Telinga Arit Sakti. Sekurang-kurangnya kakak seperguruannya. Dan apakah kemunculan mereka berdua di Pulau Madura ada sangkut pautnya dengan pertempuran di Kotaraja dulu itu? Sangkut paut urusan dendam yang hendak dibalaskan?
Atau mungkin untuk satu urusan lainnya?
Wiro terus memperhatikan dari atas pohon berdaun lebat itu. Dilihatnya Si Telinga Arit Sakti memandang berkeliling.
“Tak ada tanda-tandanya bangsat yang kita kejar itu berada di sini….” Perempuan tua berjubah putih buka suara.
Si Telinga Arit Sakti memandang lagi berkeliling lalu menyahuti. “Tapi rombongan yang kita papasi di tengah jalan itu mengatakan bahwa dia memang menuju ke sini. Mungkin dia sudah berlalu ke tempat lain. Kita harus mengejarnya dengan cepat.”
“Kau hanya bikin aku repot saja Telinga Arit Sakti. Kalau tidak gara-garamu tentu sekarang ramuan obat yang kukerjakan itu sudah selesai!”
Telinga Arit Sakti perlihatkan wajah yang tidak senang. “Kalau pemuda sialan itu tidak keliwat sakti mandraguna, pastilah aku tak akan mengemis minta tolong padamu. Guru!”
Nyatalah kini bagi Wiro Sableng bahwa perempuan tua berjubah putih itu adalah guru Si Telinga Arit Sakti! Dan nyata pula bahwa kemunculan mereka di Pulau Madura saat itu adalah dalam mencari dirinya sendiri. Rupanya kekalahan di Kotaraja tempo hari sangat menggeramkan hati Si Telinga Arit Sakti hingga manusia itu mengadu kepada gurunya. Guru dan murid kemudian sama-sama mencarinya!
“Dalam berpikir-pikir apakah dia saat itu segera turun atau tetap saja diam di atas pohon maka Wiro mendengar perempuan berjubah putih berkata. “Kita teruskan pengejaran ke timur!
Kurasa orang yang kita cari masih belum berapa jauh!”
Telinga Arit Sakti mengangguk. Maka keduanya pun berkelebat hendak meninggalkan tempat itu. Tapi pada detik yang sama dari jurusan barat satu bayangan hitam laksana anak panah lepas dari busurnya datang memapas ke arah mereka. Pendatang baru ini berseru nyaring. Suaranya menggetarkan delapan penjuru angin.
“Dua perempuan tua! Harap tetap di tempat kalian!”
Guru dan murid hentikan tindakan mereka dan berpaling ke arah barat. “Bedebah! Siapa yang berani main perintah seenak cecongornya huh?!” dengus guru Si Telinga Arit Sakti dengan penuh kegusaran.
Dalam sekejap itu pula Si pendatang baru sudah sampai di hadapan mereka. Melihat siapa adanya manusia ini maka sirnalah kemarahan guru Si Telinga Arit Sakti. Malah dia menjura hormat dan lontarkan senyum.
“Ah, kiranya Sepuluh Jari Kematian! Tiada sangka akan bertemu di Pulau Madura ini!”
Manusia yang baru datang adalah seorang laki-laki berjubah hitam, berambut panjang sampai ke punggung. Sepuluh jari tangannya berwarna hitam legam. Dia berbatuk-batuk dan berkata. “Setahuku Sepasang Arit Hitam tengah sibuk membuat sejenis ramuan obat sakti di pertapaannya. Tapi kini bersama muridnya berada di sini. Urusan apakah yang telah membawa kalian ke sini…?”
Sepasang Arit Hitam rangkapkan tangan di muka dada. “Urusan biasa saja. Kami tengah mencari seekor anjing kecil yang telah membuat sedikit keonaran di kalangan kami….”
Sepuluh Jari Kematian manggut-manggut beberapa kali.
“Kalau aku boleh tahu, siapakah yang kau maksudkan dengan seekor anjing kecil itu?”
“Ah… cuma seorang pemuda sinting geblek bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212…!” jawab Sepasang Arit Hitam.
Di atas pohon Wiro Sableng memaki dalam hati. Dengan gusar dan memperhatikan terus dan mendengarkan percakapan orang-orang itu.
Pada waktu mendengar nama Wiro Sableng dan gelar Pendekar 212 tadi terkejutlah Sepuluh Jari Kematian. “Kalau begitu kita mencari bangsat yang sama!” serunya.
Wiro terkejut. Dia coba menduga siapa adanya manusia berjuluk Sepuluh Jari Kematian yang juga tengah mencari dirinya itu.
“Betul-betul tidak diduga kita punya urusan yang sama di tempat yang sama!” ujar Sepuluh Jari Kematian. “Bangsat bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212 itu telah membunuh muridku si Wirapati yang berjuluk Pendekar Pemetik Bunga beberapa bulan yang lewat! Aku terpaksa turun gunung untuk cari itu manusia. Belakangan sekali aku mendapat keterangan bahwa bangsat itu berada di ujung Jawa Timur, tengah dalam perjalanan ke Madura ini!”
Sepasang Arit Sakti Hitam hela nafas panjang. “Pertemuan memang aneh dan sukar diduga!
Karena kita sama satu tujuan satu haluan tentu kau tak keberatan kalau meneruskan pencarian atas bangsat itu secara bersama-sama….”
“Tentu saja tidak keberatan!” sahut Sepuluh Jari Kematian dengan tertawa lebar. Laki-laki berjubah hitam ini layangkan pandangannya berkeliling. “Di samping mencari pemuda keparat bernama Wiro Sableng itu, aku juga mendapat undangan dari Dewi Siluman di Bukit Tunggul. Bila ada kesempatan kurasa tak ada salahnya kalau kalian ikut berkunjung ke tempatnya.”
“Itu bisa dipikirkan nanti,” menyahuti Si Telinga Arit Sakti. “Yang penting kita harus mencari si Wiro Sableng itu dan mematahkan batang lehernya lebih dahulu!”
Sepuluh Jari Kematian tertawa mengekeh. “Kau betul!” katanya.
Wiro Sableng memperhatikan kepergian ketiga orang itu. Kehadirannya di Pulau Madura itu kini bukan saja untuk berhadapan dengan Dewi Siluman dan orang-orangnya, tapi juga untuk berhadapan dengan tiga musuh sakti. Kalau Si Telinga Arit Sakti, ilmu silat dan ilmu kesaktiannya sudah demikian tinggi, tentu gurunya Si Sepasang Arit Hitam lebih hebat lagi dari itu. Dan ditambah pula dengan Guru Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga yang berjuluk Sepuluh Jari Kematian itu. Benar-benar mereka merupakan lawan-lawan tangguh yang tak bisa dianggap enteng sama sekali. (Mengenai kehebatan dan kejahatan Pendekar Pemetik Bunga baca serial Wiro Sableng “Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga”). Diam-diam Pendekar 212 merenung. Mungkin kehadirannya di Pulau Madura adalah benar-benar untuk mencari kematiannya sendiri.
***
Next ...
Bab 2
Loc-ganesha mengucapkan Terima Kasih kepada Alm. Bastian Tito yang telah mengarang cerita silat serial Wiro Sableng. Isi dari cerita silat serial Wiro Sableng telah terdaftar pada Departemen Kehakiman Republik Indonesia Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek.Dengan Nomor: 004245
0 Response to "Dewi Siluman Bukit Tunggul Bab 1"
Posting Komentar