WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
Episode 010
Banjir Darah Di Tambun Tulang
DUA BELAS
Terkejut Gempar Bumi bukan alang kepalang! Dihadapannya berdiri seorang perempuan tua renta berpakaian putih. Tubuhnya sangat bongkok sedang di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang yang terbuat dari perak dan berkilauan ditimpa sinar pelita.
Begitu melihat perempuan ini, Mayang berseru:
"Guru!"
Si perempuan tua lemparkan sebuah mantel untuk menutupi tubuh Mayang.
Mendengar seruan Mayang tadi Gempar Bumi maklum kini bahwa perempuan tua di hadapannya bukan lain Inyak Nini, guru gadis yang barusan saja dirusak kehor-matannya! Nama Inyak Nini sudah sering didengarnya, tapi baru kali ini dia berhadapan. Tak bisa dia menduga sampai di mana kehebatan perempuan ini walau se¬belumnya di hadapan Mayang dia telah menganggap Inyak Nini seorang lawan enteng yang bisa dirobohkan¬nya di bawah sepuluh jurus!
"Manusia bejat!" suara Inyak Nini bergelar.
"Kau harus bayar dengan kau punya jiwa atas per¬buatan yang kau telah lakukan terhadap muridku!"
Gempar Bumi tertawa sedingin angin malam.
"Apa kau masih belum tahu berhadapan dengan siapa, nenek-nenek bongkok?!"
Inyak Nini meludah ke lantai. Ludahnya merah ka¬rena susur yang senantiasa menyumpal di mulutnya.
"Nama Gempar Bumi terlalu sering kudengar! Ter¬lalu memuakkan untuk didengar! Dan malam ini aku akan menumpas segala kemuakan itu!"
Tanpa banyak cakap lagi, Inyak Nini melompat ke muka. Pedang perak di tangan kanannya berkiblat. Angin tebasan menderu! Gempar Bumi mengelak de¬ngan sebat lalu selipkan satu serangan balasan, tapi senjata lawan membalik ganas membuat dia melompat mundur dan memasang kuda-kuda baru! Ternyata Inyak Nini bukan lawan yang bisa dibuat main-main.
Tiba-tiba sesosok bayangan hitam muncul di ambang pintu.
"Gempar Bumi, biaraku yang hadapi setan tua ini!" kata orang yang di ambang pintu. Dia bukan lain dari¬pada Sati.
"Sati keparat!" bentak Gempar Bumi- "Kau tetap di tempatmu dan awas kalau berani lari! Kau akan terima hukuman dariku!"
Menciut hati Sati. Maksudnya hendak menghadapi Inyak Nini adalah sebagai penebus kesalahannya. Ter¬nyata Gempar Bumi tidak mau ambil perduli dan tetap akan menjatuhkan hukuman terhadapnya. Dia berpikir¬pikir untuk Jari tapi itu tentu membuat Gempar Bumi akan bertambah-tambah kemarahannya! Karenanya Sati ber¬diri di ambang pintu itu dengan hati yang tidak enak dan serba salah!,
Pondok itu tidak seberapa besar karenanya tanpa senjata agak sukar juga bagi Gempar Bumi menghadapi amukan Inyak Nini. Pedang perak bersiuran kian kemari, memapas dan membacok, sedang tusukan-tusukan ga¬nas meluncur berulang kali! Namun mata Gempar Bumi yang tajam segera melihat kelemahan-kelemahan jurus ilmu pedang yang dimainkan oleh lawannya. Segera dia menggempur tempat-tempat pertahanan yang lemah ini hingga pertempuran berjalan berimbang beberapa lama¬nya!
"Tua renta sialan! Makan ini!" teriak Gempar Bumi. Tangannya mengetuk saku, sedelik kemudian puluhan jarum mendengung laksana tawon, menyambar ke arah Inyak Nini! Inyak Nini terkejut! Serta merta dia putar per dangnya. Belasan jarum hitam mental dan luruh ke lantai. Tapi beberapa di antaranya tak sanggup dipapasinya dengan pedang, dan terus menembus dagingnya!
Inyak Nini menggerung macam serigala dan me¬nyerbu dengan dahsyat! Dia sudah tahu keganasan ra¬cun yang terendam di jarum hitam itu. Meski dia telah ke¬rahkan tenaga dalamnya untuk menutup beberapa jalan darah yang penting agar racun jahat itu tidak merambas ke jantungnya namun tetap saja rangsangan jarum ber-membobolkan jalan darah, terus mengalir menuju jantung! Inyak Nini sadar bahaya besar yang mengidap dalam dirinya. Dalam tempo dua puluh empat jam jika tidak terdapat pertolongan pasti jiwanya melayang!
Gempar Bg#i tertawa sewaktu mengetahui senjata rahasianya berbasil menemui sasaran di beberapa bagi¬an tubuh lawan.
"Perempuan tua! Lebih baik kau bunuh diri sebelum racun jarum itu menghancurkan kau punya jantung!"
"Manusia dajal kau musti menyertaiku ke akhirat!" teriak Inyak Nini lalu menggembor dan menyerang dengan dahsyat.
"Braak!"
Sambaran pedang Inyak Nini mengenai tempat ko¬song dan menghantam dinding pondok hingga hancur bobol! Gempar- Bumi pergunakan kesempatan ini untuk menyerang dari samping! Tapi "Buuk!" Tahu-tahu ten¬dangan kaki kanan Inyak Nini bersarang di bahunya! Tu¬buhnya terhuyung-huyung beberapa langkah dan bahu¬nya sakit bukan main!
"Perempuan bedebah!" maki Gempar Bumi. Mulutnya komat kamit, tubuhnya membungkuk hampir sebungkuk Inyak Nini sedang kedua tangan terkembang kemuka dengan sepuluh jari-jari menekuk!
Inyak Nini maklum kalau lawan hendak keluarkan jurus ilmu silat yang hebat. Maka tidak menunggu lebih lama dia mendahului menyerang dengan pedang di ta¬ngan! Dalam detik itu pula Gempar Bumi keluarkan suara keras macam harimau meraung dan tubuhnya berke¬lebat ke depan! Gerakan kedua tangannya asing seka» bagi Inyak Nini, suara seperti harimau meraung yang ke luar dari mulut Gempar Bumi membuat perempuan tua itu terkesiap dan bergidik!
Kemudian terdengarlah pekik perempuan tua itu!
Dan menyusul pula pekik Mayang yang melihat paras gurunya berlumuran darah mengerikan!
Inyak Nini terhuyung-huyung sampai lima langkah ke belakang. Kulit mukanya terkelupas dalam lima guratan yang dahsyat, parasnya berselomotan darah sedang pedang perak di tangan kanannya sudah berpindah ke dalam tangan kanan Gempar Bumi! Sungguh dahsyat jurus "Mencakar Kepala Ular Naga, Merampas Busur Pe-manah", yang telah dilancarkan Gempar Bumi tadi. Jurus itu adalah salah satu jurus terhebat dari "Ilmu Silat Harimau".
"Apakah masih belum mau bunuh diri?!" ejek Gem-par Bumi.
Inyak Nini tidak menjawab. Lututnya menekuk dan tubuhnya perlahan-lahan turun ke bawah macam orang hendak roboh. Tapi mendadak diiringi satu lengkingan dahsyat perempuan ini melompat ke muka, hantamkan kedua tinju kiri kanan dan lancarkan dua tendangan susul menyusul! Ini adalah satu serangan percuma saja. Rasa marah, dendam kebencian yang bertumpuk di hati Inyak Nini membuat dia lupa memperhitungkan bahwa lawannya tidak lagi bertangan kosong saat itu, tapi menggenggam pedang perak miliknya sendiri!
Sekali Gempar Bumi memutar pedang, maka terde¬ngarlah raungan Inyak Nini. Kedua lengannya terbabat putus, salah satu kakinya luka parah!
Mayang menjerit lalu menangis tersedu-sedu!
Inyak Nini terhampar di lantai pondok. Tubuhnya berkelojotan beberapa detik kemudian diam tak berkutik lagi
Gempar Bumi melangkah cepat-cepat ke hadapan tubuh Mayang dan memanggul gadis yang telah hilang keperawanannya itu.
"Bunuh aku! Bunuh aku keparat!"
"Kau terlalu banyak rewel!" hardik Gempar Bumi dan menotok jalan darah di leher Mayang hingga Mayang di samping, kaku tak bisa bergerak kini juga tak dapat ke-luarkan suara!
Di ambang pintu Gempar Bumi hentikan langkahnya dan memandang dengan sorot mata melotot pada Sati yang berdiri dengan paras pucat.
"Kesalahanmu terlalu besar Sati…!"
Sati menjatuhkan dirinya dan menangis macam anak kecil. "Harap kau sudi mengampuni aku. Gempar Bumi," pintanya.
"Aku ampuni jiwamu! Tapi lekas korek salah satu matamu yang suka mengintip itu! Lekas!"
"Gempar Bumi!" Sati menggerung dan bersujud.
"Keparat! Lekas korek matamu," bentak Gempar Bumi. "Atau aku sendiri yang akan mengorek kedua¬duanya sekaligus?!"
Sati maklum tak ada lagi keringanan baginya. Dari¬pada hilang dua mata atau hilang jiwa lebih baik dia cepat-cepat mengorek salah satu matanya! Dengan jari¬jari tangan kanan Sati kemudian menusuk mata kirinya.
"Craas!"
Biji mata itu mencelat ke luar bersama busaian da¬rah. Sati terduduk di ambang pintu; merintih-rintih me¬nahan sakit yang tiada taranya!
"Itu lebih bagus bagimu daripada mampus!" kata Gempar Bumi pula. Lalu dengan tubuh Mayang di bahu¬nya dia segera hendak tinggalkan tempat itu. Namun langkahnya terhenti. Kedua kakinya laksana dipakukan ke tanah! Di Timur pondok terdengar suara orang mem¬bentak. "Manusia jahanam! Berani bergerak satu langkah saja kupecahkan batok kepalamu!"
Waktu suara teriakan orang di malam buta itu belum habis gemanya ketika tahu-tahu sesosok tubuh sudah berdiri tujuh langkah di hadapan Gempar Bumi!
Paras Gempar Bumi mendadak sontak berubah pucat putih laksana kain kafan! Mayang dengan susah payah coba putar mata memandang ke muka! Satu harapan muncul di hatinya sewaktu melihat bahwa yang datang itu benarlah orang yang diduganya. Kalau saja mulutnya sanggup bersuara pastilah dia akan berseru memanggil nama orang itu!
"Turunkan gadis itu…! Cepat!"
"Bangsat! Dia milikku! Kalau kau inginkan dia silah¬kan ambil sendiri!" jawab Gempar Bumi. Lalu tak ayal lagi segera dia cabut Keris "Si Penyingkir Jiwa".
"Dajal bermuka manusia, kali ini jangan harap ada
ampun bagimu!" Orang ini hantamkan tangan kanannya ke arah kaki Gempar Bumi. Satu gumpalan angin yang bertenaga tiga perempat tenaga dalam menyambarde¬ ngan cepat! Gempar Bumi buru-buru melompat. Teng¬kuknya terasa dingin ketika memandang ke bawah dan melihat bekas angin pukulan lawan! Tanah dan pasir ber¬ muncratan. Sebuah lobang besar kelihatan di tanah! Itu¬ lah akibat pukulan "Kunyuk Melempar Buah" yang telah dilepaskan oleh si pendatang tadi yang bukan lain Pen-dekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng adanya!
Menghadapi lawan tangguh berkepandaian tinggi dengan memanggul tubuh Mayang tentu saja sangat ber¬bahaya bagi Gempar Bumi. Maka sebelam Wiro kembali lancarkan serangan. Gempar Bumi sudah meletakkan tubuh Mayang di tanah.
Sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang hebat! Kalau dalam pertempuran pertama dulu kelihatannya agak seimbang itu adalah karena Wiro masih memberi hati terhadap Gempar Bumi. Tapi hati ini tak ada lagi segala macam belas kasihan di hati Pendekar 212 Wiro Sableng. Melihat tubuh Mayang yang hanya tertutup sehelai mantel dia sudah tahu apa yang dilakukan Gempar Bumi terhadap gadis itu!
Sebenarnya, di satu tempat pada malam itu Wiro sudah berniat menghentikan pengejarannya terhadap Gempar Bumi. Sementara dia mencari tempat yang baik untuk tidur tapi lapat-lapat didengarnya suara teriakan, suara pekik raungan. Suara itu didengarnya sampai berulang kali dan dari arah yang sama! Penuh curiga, Wiro laksana terbang segera lari ke jurusan sumber suara. Dia berada beberapa puluh tombak, di satu pedataran tinggi sewaktu di ambang pintu sebuah pondok yang diterangi oleh pelita dilihatnya berdiri seorang laki-laki berpakaian hitam, memanggul sesosok tubuh! Meski dalam jarak se¬jauh itu Wiro tak dapat melihat jelas tampang manusia itu namun dia yakin, orang ini pastilah Gempar Bumi!
Keris hitam di tangan Gempar Bumi laksana puluhan buah banyaknya. Serangannya mencurah seperti hujan deras! Tak jarang sekaligus dia mengirimkan beberapa buah tusukan dalam satu jurus serangan! Betapapun hebatnya Gempar Bumi, namun segala kehebatannya Hu hanya sepuluh jurus saja sanggup diperlihatkannya. Jurus¬jurus berikutnya dia telah kena didesak hebat oleh permainan silat "Orang Gila" yang mulai dikembangkan Wiro. Dalam keadaan terdesak Gempar Bumi lepaskan… senjata rahasianya. Tapi tiada guna Sekali Wiro hantamkan telapak tangan kirinya ke muka jarum-jarum hitam itu bermentalan kian ke mari!
"Aku minta tangan kirimu dulu, Gempar bumi!" kata Wiro. Tubuhnya maju cepat ke muka dalam gerakan yang terhuyung-huyung. Gerakan ini bagi Gempar Bumi me-rupakan suatu gerakan yang sangat mudah untuk di¬serang! Segera dia tusukkan Keris Penyingkir Jiwa ke dada lalu setengah jalan robah menusuk ke kepala! Namun dalam gerakan yang tak teratur Wiro berhasil mengelit tusukan itu.
Dan Gempar Bumi memekik keras sewaktu tahu¬tahu tangan lawan telah mencengkeram lengan kirinya!
Gempar Bumi menusuk lagi dengan kalap. Tapi tubuhnya terbanting ke kanan dan "Kraak!"
"Suara "kraak" itu disusul dengan suara pekikan se¬tinggi langit dari mulut Gempar Bumi! Lengan kirinya se¬batang bahu tanggal, daging dan urat-urat berbusaian! Darah memancur! Laki-laki ini menjerit-jerit kesakitan!
"Berteriaklah memanggil majikanmu Datuk Sipa¬toka!" ejek Wiro. Tiga jari tangan kirinya menyusup ke depan.
"Kraak!"
Untuk kedua kalinya terdengar lagi pekik Gempar Bumi. Dua buah tulang iganya yang sebelah kanan patah!
"Kau akan mampus dengan menderita lebih dulu, Gempar Bumi keparat! Kau akan terima imbalan atas dosa-dosa kejimu!" Kembali dengan mengeluarkan jurus-jurus silat Orang Gila yang dipelajarinya dari Tua Gila, Wiro tusukkan lagi dua jari tangan kanannya.
"Craas!"
, Gempar Bumi melolong.
Biji matanya yang sebelah kanan berbusaian keluar. Tubuhnya terhuyung nanar.
"Sati! Bantu aku!" teriak Gempar Bumi.
Tapi Sati sudah sejak lama terhampar di muka pintu pondok dalam keadaan pingsan!
"Kenapa tidak minta bantuan pada setan-setan penghuni sekitar tempat ini?! Bukankah kau manusia tu¬runan iblis juga hah?!" bentak Wiro dan melangkah men-dekati Gempar Bumi.
Gempar Bumi mundur terus. Tiba-tiba kakinya meng¬injak sesuatu dan tak ani pun lagi tubuhnya tergelimpang jatuh punggung menimpa sesosok tubuh. Muianya di-sangkanya, tubuh yang terhimpit badannya itu adalah tu¬buh Sati tapi ketika ditolehnya ternyata tubuh Mayang. Satu pikiran terlintas di kepala Gempar Bumi. Meski bagaimanapun dia tak ada harapan untuk hidup!
"Pemuda keparat! Kau inginkan perempuan ini! Ambillah!" teriak Gempar Bumi dan serentak dengan itu di¬hunjamkannya Keris Si Penyingkir Jiwa ke dada Mayang!
Laksana orang kemasukan setan Wiro Sableng me¬raung! Seantero bergetar! Sinar putih melesat menyam¬bar ke arah Gempar Bumi! Laki-laki ini coba membuang diri ke samping untuk menghindarkan Pukulan Sinar Ma¬tahari itu tapi sia-sia saja! Sebagian dari tubuhnya kena tersambar dan hangus hitam! Gempar Bumi menjerit. Terguling di tanah sampai enam tombak dan mengerang kesakitan. Meski dalam beberapa kejap mata lagi Gem-par Bumi akan segera menghembuskan nafas peng-habisan namun Wiro masih belum puas. Dia melompat ke muka, mencengkeram rambut dan dada Gempar Bumi. Terdengar suara patahnya tulang leher manusia terkutuk itu! Tamatlah riwayat kedurjanaan Gempar Bumi!
Wiro Sableng lari menghampiri Mayang. Dipangku¬nya gadis ini. Darah telah membasahi dada yang tiada tertutup apa-apa. Wiro tak mem perduIikan darah yang membasahi pula pakaiannya.
"Mayang…" bisiknya.
"Mayang," panggil Wiro lebih keras. Diusapnya ke¬ning dan rambut perempuan itu. Sepasang mata Mayang membuka sedikit. Yang kelihatan lebih banyak putihnya daripada hitamnya.
"Wi… ro…." Mata yang sudah mengabur itu masih sanggup juga mengenali wajah di depannya. "Sakit sekali rasa… nya…."
"Kau… kau akan kuobati. Kau akan sembuh," kata Pendekar 212 tersendat-sendat karena dia tahu kata¬katanya itu tak bakal menjadi kenyataan.
Mayang juga tahu ajalnya akan sampai. Seulas senyum muncul di bibirnya. Dan pada kejap matanya di¬tutupkan, nafasnya berhenti. Malaekat maut telah meng-ambil nyawanya. Dia mati dengan senyum masih mem¬bayang di bibirnya yang mungil dan agak membuka se¬dikit. Wiro tak tahu entah sudah berapa lama dia merang¬kuli tubuh yang tidak bernafas dan mulai mendingin itu. Dia baru sadar ketika di ufuk Timur kelihatan sinar te¬rang. Ternyata fajar telah menyingsing. Dipandanginya lagi wajah Mayang dikeheningan pagi yang segar. Per¬lahan-lahan ditundukkannya kepalanya dan diciumnya bibir yang membuka itu dengan segala rasa kasih dan mesra. Kemudian diangkatnya tubuh Mayang, dibawa¬nya ke pondok. Di pintu pondok tergelimpang tubuh Sati yang masih dalam keadaan pingsan. Wiro gerakkan kaki kanannya. Tubuh Sati mencelat mental, dadanya remuk. Dan kalau tadi tubuhnya tak bergerak karena pingsan maka kali ini tubuh itu tak berkutik lagi tanpa nafas!
Di dalam pondok Wiro menemui mayat seorang pe¬rempuan tua: Dia tak tahu siapa perempuan tua ini ada¬nya tapi sepintas lalu saja Wiro sudah maklum bahwa pe-rempuan tua itu seorang yang berilmu tinggi dan dari go-longan putih. Karenanya sesudah menggali kubur untuk Mayang, digalinya lagi sebuah kubur lain untuk perem¬puan tua itu. Dan bila sang surya muncul menerangi ja¬gad raya maka di muka pondok di tepi sungai itu kelihatanlah dua buah kuburan saling berdampingan….
***
Next ...
Bab 13
Loc-ganesha mengucapkan Terima Kasih kepada Alm. Bastian Tito yang telah mengarang cerita silat serial Wiro Sableng. Isi dari cerita silat serial Wiro Sableng telah terdaftar pada Departemen Kehakiman Republik Indonesia Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek.Dengan Nomor: 004245


0 Response to "Banjir Darah Di Tambun Tulang Bab 12"
Posting Komentar