Banjir Darah Di Tambun Tulang Bab 9

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito

Episode 010
Banjir Darah Di Tambun Tulang

SEMBILAN
Begitu Gempar Bumi lenyap maka Mayang segera menjura di hadapan Wiro Sableng dan mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Wiro senyum-senyum malu kemudian menganggukkan kepala pada Pagar Alam.
"Orang muda," kata Pagar Alam, "Pertolonganmu sangat besar terhadap kami ayah dan anak! Kami meng¬ucapkan terima kasih. Boleh aku tahu nama dan dari mana kau datang?"
"Namaku Wiro. Aku datang dari Pulau Jawa."
"Ah… ternyata kau orang perantauan. Pantas permainan silatmu hebat! Tapi melihat kau tadi mengeluarkan ilmu silat orang gila aku jadi heran. Setahuku pencinta ilmu silat itu adalah seorang tua aneh yang diam di satu pulau di sebelah barat Pulau Andalas ini, jadi bukan dari Pulau Jawa."
Wiro Sableng menuturkan riwayat perjalanannya secara singkat.
Pagar Alam angguk-anggukkan kepala.
"Kau beruntung, Wiro. Tak sembarang orang diberi anugerah ilmu kepandaian seperti itu oleh Tua Gila si orang aneh. Bahkan jarang sekali dia memperlihatkan diri, dicaripun sukar!"
Wiro Sableng memandang ke kaki Pagar Alam yang terebus air mendidih sewaktu mengadakan pertunjukan mencari uang di pasar tadi. Lalu dikeluarkannya sebutir pil dan diberikannya pada laki-laki itu.
"Telanlah, mungkin bisa menolong lukamu itu."
Pagar Alam menerima pil itu, menelitinya sebentar lalu menelannya tanpa ragu-ragu. Setengah menit kemudian rasa sakit pada kedua kakinya lenyap sama sekali, meskipun keadaan kedua kaki itu diluarnya tidak ada perubahan apa-apa.
"Terima kasih Wiro," kata Pagar Alam sementara Mayang mengangkat adiknya yang mulai siuman ke atas kereta. Malin si Kusir bendi juga sudah sadarkan diri dan duduk menjelepok di tanah sambil mengurut-urut tulang iganya yang patah dan merintih kesakitan. Wiro memeriksa keadaan kusir bendi ini, mengurut dadanya di beberapa bagian lalu memberikan sebutir pil. Kalau saja dia dulu sudah mempelajari ilmu pengobatan pada Kiai Bangkalan pastilah dalam waktu yang singkat dia sanggup mengobati penderitaan Pagar Alam dan si kusir bendi.
‘Kalau aku boleh tanya, urusan apakah yang telah membuatmu sampai menginjakkan kaki di Pulau Andalas ini?" tanya Pagar Alam.
"Hanya sekedar ingin berkelana saja," jawab Wiro tak mau menerangkan maksud perjalanannya. Tapi kemudian dia ingat tanpa mencari keterangan dan penduduk setempat tak mungkin perjalanannya mencari pembunuh Kiai Bangkalan akan mudah dilakukan. Maka bertanyalah Pendekar 212: "Aku berniat pergi ke bukit Tambun Tulang. Mungkin kau bisa memberi petunjuk jalan mana yang musti kutempuh agar bisa lekas sampai disitu?!"
Pagar Alam, Mayang dan si kusir bendi sama-sama terkejut.
"Kau mau pergi ke Tambun Tulang, Wiro…?"
"Ya. Menurut si Tua Gila, orang yang tengah kucari mungkin berada di situ…" tanpa disadari oleh Wiro walau tadi dia menyembunyikan maksud perjalanannya tapi kini diungkapkannya sendiri.
"Siapakah orang yang kau cari itu?" tanya Pagar Alam.
"Aku sendiri tak tahu siapa orangnya. Tapi dia telah membunuh seseorang dan mencuri sebuah kitab penting!"
"Tambun Tulang adalah bukit maut bagi penduduk sekitar sini," kata Malin.
Dan Pagar Alam menyambungi: "Tak ada seorangpun yang berani berada dekat-dekat ke bukit itu. Bukit Tambun Tulang dan daerah sekitarnya di bawah kekuasaan Datuk Sipatoka. Seorang manusia bermuka setan berhati iblis! Sejak usia belasan tahun dia telah menebar kejahatan dan membunuh ratusan manusia tanpa dosa! Setiap manusia yang jadi korbannya atau anak-anak buahnya dikumpulkan di satu tempat hingga lambat laun, bertahun-tahun kemudian tempat itu telah menjadi sebuah bukit putih yang terdiri dari timbunan tulang belulang manusia!"
“Tua Gila ada menerangkan hal itu padaku," ujar Wiro.
"Dan manusia yang kau hajar tadi adalah tangan kanan pembantu utama Datuk Sipatoka. Di samping dia Datuk Sipatoka masih mempunyai beberapa pembantu ber¬kepandaian tinggi, memiliki beberapa puluh anak buah yang kerja mereka bukan lain daripada merampok dan memeras penduduk, melarikan perempuan-perempuan desa tak perduli apakah istri orang, apalagi anak-anak gadis! Kemudian dari itu Datuk Sipatoka memelihara pula puluhan ekor harimau yang taat dan tunduk pada segala perintahnya! Beberapa tokoh dunia persilatan pernah turun tangan dan datang ke sana. Sampai saat ini mereka tidak kembali. Kabar beritapun tidak diketahui. Apalagi kalau bukan meregang nyawa di bukit Tambun Tulang? Dua buah partai silat belum tiga bulan yang lalu, secara serempak menyerbu ke Tambun Tulang. Hasilnya? Ratusan manusia mati percuma di sana! Kau saksikan sendiri kehebatan keparat bernama Gempar Bumi itu! Dan Datuk Sipatoka mungkin sepuluh kali dari itu tinggi ilmunya! Kejahatan Datuk Sipatoka dan orang-orangnya sudah lewat batas, tak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Tapi siapa manusianya yang sanggup menghadapi dia dan anak¬anak buah serta harimau-harimau peliharaannya itu?! Kehidupan penduduk sekitar sini selalu dicekam rasa ketakutan setiap hari!"
Wiro Sableng menghela nafas dalam. Kalau kejahatan di atas dunia sudah demikian besarnya, mengapa tokoh utama seperti Tua Gila tidak mau turun tangan atau mungkin pernah tapi tidak membawa hasil?
Tengah Wiro berpikir-pikir begitu Pagar Alam berkata: "Kurasa memang ada kemungkinan bahwa Datuk Sipatoka pembunuh dan pencuri yang kau maksudkan. Dan sesudah kau tahu siapa dia, apakah kau masih hendak meneruskan niat pergi ke Tambun Tulang?".
Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya.
"Sekali pergi pantang bagiku untuk kembali pulang."
Pagar Alam mengagumi keberanian pemuda ini.
"Kami hendak meneruskan perjalanan. Kuharap kau sudi ikut sama-sama dan mampir di rumahku. Kita bisa bicara banyak hal dan siapa tahu aku dapat membantumu dalam usahamu pergi ke Tambun Tulang."
Wiro menimbang sebentar. Kemudian dia ingat akan ucapan Gempar Bumi sebelum pergi tadi yaitu bahwa laki-laki itu akan kembali pada tanggal tiga bulan di muka pada hari peresmian berdirinya Perguruan Kejora. Maka diapun menerima permintaan Pagar Alam lalu naik ke atas bendi. Karena Maljn masih sakit, terpaksa Wiro yang pegang tali kekang kuda penarik bendi. Seumur hidupnya baru kafi itulah Pendekar 212 menjadi kusir bendi!
Ketika hari menjelang pelang, Wiro minta diri pada Pagar Alam dan keluarganya untuk meneruskan per¬jalanan. Sebenarnya Pagar Alam ingin menahan pemuda ini sampai tanggal tiga bulan di muka yaitu pada hari dia meresmikan berdirinya Perguruan Kejora yang dipimpinnya. Namun sebagai seorang laki-laki berhati jantan yang tidak ingin memaksakan diri untuk mengandalkan orang lain, Pagar Alam membatalkan niatnya itu.
Pendekar 212 pun meneruskan perjalanan. Belum lagi seratusan meter dia meninggalkan rumah Pagar Alam, disadarinya bahwa dia tidak sendirian. Telinganya yang tajam telah sejak lama mendengar suara orang mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi. Karena khawatir orang itu adalah Gempar Bumi yang berniat hendak membokongnya maka Wiro pun berhenti dan memutar tubuh seraya berseru: "Manusia tukang kuntit, tak usah sembunyi! Segera perlihatkan tampangmu!"
Suara Pendekar 212 bergema di seanfero rimba be¬lantara. Tapi tak satu orang pun yang muncul! Wiro jadi penasaran. Sekali meneliti saja dia sudah tahu di mana si penguntit berada yaitu di belakang sebatang pohon jati yang besarnya tiga pemeluk tangan.
"Ayo lekas keluar! Kalau tidak jangan menyesali"
Tetap saja orang yang sembunyi di balik pohon tidak mau keluar.
Tanpa menunggu lebih lama Wiro segera hantamkan tangan kanannya ke pohon jati itu. Satu gelombang angin besar menderu laksana topan"
"Kraak!"
Batang jati yang besarnya tiga pelukan tangan manusia itu patah lalu tumbang dengan mengeluarkan suara dahsyat ribut! Dan pada kejap patahnya pohon itu sesosok tubuh melompat sebat!
"Ah… kau!" seru Wiro ketika dia melihat siapa adanya orang itu. "Untung saja kau tidak kena celaka!"
Nyatanya dia bukan lain dari Mayang, anak gadis Pagar Alam.
"Kenapa kau ikuti aku?!" tanya Wiro.
Paras sang dara memerah jengah.
"Aku tidak mengikutimu, saudara Wiro " kata Mayang.
"Lalu?!" tanya Wiro dan dia tahu kalau si gadis berdusta “Aku ingin balas dendam pada si keparat Gempar Bumi!"
Wiro angguk-anggukkan kepala macam orang tua.
"Kau memang seorang gadis berhati jantan! Kupuji keberanianmu! Tapi kau pergi dalam keadaan ayahmu masih sakit begitu rupa…?"
"Ibu bisa merawat ayah sendirian. Lagi pula lukanya tidak berat…" , ‘
"Soalnya bukan adanya ibumu atau luka ayahmu yang tidak berat itu. Tapi apa kau lupa bahwa walau ba¬gaimanapun ilmu kepandaianmu tak sebanding dengan Gempar Bumi? Sekali kau mencarinya bukankah itu sama saja dengan sengaja mengantarkan diri?! Apalagi se: minggu dimuka ayahmu akan meresmikan Perguruan Kejora! Kau tentu sangat dibutuhkannya…!"
"Tapi… tapi…."
Wiro tertawa dan melangkah ke hadapan gadis itu
"Kembalilah pulang…."
"Tapi apakah… apakah kau tidak akan kembali lagi… maksudku tidak akan mampir lagi ke rumah?"
Wiro kembali tertawa.
"Tentu aku akan mampir lagi," sahut Wiro. Dia maklum akan perasaan gadis ini. Dan gadis yang diamuk perasaan seperti Mayang bukan baru sekali ini ditemui oleh Pendekar
212. Soalnya apakah dia bersedia melayani dan menurutkan kata hatinya. Diam-diam Wiro Sableng ingat pada Permani. Mayang tidak kalah kecantikannya dengan Permani, dan juga telah banyak Pendekar 212 menemui gadis-gadis cantik tapi entah mengapa dia tak bisa melupakan Permani!
"Aku berjanji akan kembali," kata Wiro meyakinkan Mayang. Tapi dara itu tak beranjak dari hadapannya. Wiro mengeluh dalam hati. Kalau lama-lama berdiri ber-hadap-hadapan seperti ini bisa celaka pikirnya. Ditepuknya bahu Mayang seraya berkata: "Pulanglah. Di lain hari aku akan mampir menyambangimu." Habis berkala be¬gitu Wiro berkelebat dan lenyap dari hadapan Mayang. Sang dara hela nafas panjang. Gemuruh hatinya kini ber¬ubah menjadi satu kekecewaan, namun juga satu harapan.
***

Next ...
Bab 10

Loc-ganesha mengucapkan Terima Kasih kepada Alm. Bastian Tito yang telah mengarang cerita silat serial Wiro Sableng. Isi dari cerita silat serial Wiro Sableng telah terdaftar pada Departemen Kehakiman Republik Indonesia Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek.Dengan Nomor: 004245



Related Posts :

1 Response to "Banjir Darah Di Tambun Tulang Bab 9"

  1. salam hormat tertuju kepada Ganesha group yg mana telah sudi untuk menerbitkan ulang karya2 dr bpk Alm Bastian.T.

    BalasHapus